
Etika dan integritas adalah pondasi utama dalam penyelenggaraan penelitian, khususnya di bidang kesehatan yang melibatkan subjek manusia. Riset bukan sekadar proses ilmiah, tapi proses moral. Hal itu ditegaskan Prof. Dr. Dany Hilmanto, dr., Sp.A(K), saat memberikan kuliah pakar yang diikuti maahsiswa Program S3 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, pada Kamis 22 Mei 2025.

Guru Besar dan Kepala Divisi Nefrologi Anak di RSHS/FK Unpad tersebut mengantar mahasiswa dengan meninjau sejarah kelam pelanggaran etika dalam penelitian, dari kasus eksperimen Nazi oleh Josef Mengele hingga skandal fabrikasi data oleh ilmuwan ternama seperti Hwang Woo Suk dan Jan Hendrik Schön. Menurutnya, peristiwa itu menjadi pelajaran penting bagi generasi peneliti saat ini untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. Dalam konteks akademik, Prof. Dany menjelaskan bahwa etika bukan hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga dibentuk melalui ‘hidden curriculum’ yakni keteladanan dosen, suasana kampus, dan nilai-nilai yang melekat dalam proses pendidikan.
Untuk diketahui kuliah pakar ini tidak hanya diikuti mahasiswa program S3 Kesehatan Masyarakat saja, namun diikuti dosen serta sejumlah tenaga kesehatan yang membahas secara rinci berbagai bentuk pelanggaran integritas akademik, seperti fabrikasi data, plagiarisme, ghost authorship, hingga penyalahgunaan dana riset. Dimana dalam kuliah ini menekankan pelanggaran-pelanggaran tersebut dapat merusak kepercayaan publik, membahayakan pasien, hingga berdampak negatif pada kebijakan kesehatan nasional.
Melalui kesempatan itu juga, Prof. Dany mengajak semua pemangku kepentingan—dosen, peneliti, institusi, jurnal ilmiah, dan penyandang dana—untuk bersama-sama membangun budaya riset yang transparan, jujur, dan akuntabel. “Integritas bukan tugas individu saja, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh ekosistem akademik dan ilmiah, dan kejujuran adalah cerminan harga diri mutlak individu,”jelasnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Azniah, SKM., M.Kes, selaku Ketua Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat Universitas Mega Buana memberikan penegasan penting kepada mahasiswa bahwa untuk menjadi seorang doktor adalah masalah integritas. “Dan seorang calon doktor harus memahami bahwa menulis disertasi bukan hanya soal akademik, tapi juga soal etika dan integritas. Disertasi yang bermutu lahir dari kejujuran ilmiah, tanggung jawab sosial, dan sikap akademik yang tidak bisa ditawar,” sebutnya.
Senada dengan itu, Rektor Universitas Mega Buana Palopo, Prof. Dr. Hj. Nilawati Uly, S.Si.,Apt.,M.Kes.,CIPA di berbagai kesempatan menekankan komitmen institusional dalam penyelenggaraan akademik. “Universitas Mega Buana berkomitmen menghadirkan integritas di setiap lini kehidupan akademik. Bagi kami, integritas bukan hanya prinsip, tetapi budaya yang kami bangun, khususnya dalam membimbing mahasiswa S3 sebagai ilmuwan masa depan,”ucapnya. Dengan digelarnya kegiatan ini diharapkan mampu merefleksikan pentingnya nilai-nilai akademik dalam kegiatan riset. “Kuliah pakar ini diharapkan mampu memperkuat komitmen civitas akademika UMB Palopo dalam menjunjung tinggi etika dan integritas dalam setiap aktivitas ilmiah,”tandasnya.(*)