
Universitas Mega Buana Palopo (UMB) kembali meneguhkan kiprahnya sebagai kampus berdampak melalui kegiatan pengabdian masyarakat berbasis kemitraan yang berlangsung pada 11 Agustus 2025, lalu bertempat di Desa Pao, Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara. Pelaksana kegiatan terdiri dari tim dosen, mahasiswa, dan mitra lintas universitas turun langsung mendampingi petani tambak tradisional untuk memperkenalkan teknologi berbasis jamur Trichoderma. Inovasi ini dirancang sebagai solusi ramah lingkungan dalam memperbaiki kualitas air tambak yang selama ini menjadi kendala utama budidaya udang, bandeng dan rumput laut.


Program ini dilaksanakan melalui kelompok petani tambak sebanyak lima belas petani yang tergabung dalam kelompok “Suara Rakyat 2”. Mereka mengikuti rangkaian pelatihan mulai dari pengenalan konsep bioremediasi, praktik perbanyakan Trichoderma dengan bahan lokal, hingga aplikasi langsung inokulan cair ke tambak percontohan. Di sepanjang kegiatan, para petani antusias menakar bekatul, sekam, dan air kelapa, lalu mencampurnya dengan starter Trichoderma yang telah disiapkan. Tidak hanya itu, para petani tambak juga aktif menebarkan inokulan cair ke permukaan tambak sambil berdiskusi dengan tim pengabdi, ini memberikan gambaran nyata bahwa inovasi ini mudah diterima sekaligus memberi harapan baru bagi masyarakat pesisir. Tentu dibalik keberhasilan kegiatan ini, peran para narasumber dan tim pengabdi sangat menentukan.

Prof. Dr. Azniah, SKM, M.Kes, selaku penanggung jawab menyampaikan dengan digelarnya program ini menunjukkan, hilirisasi hasil riset kampus harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa Trichoderma bukan hanya sekadar teknologi laboratorium, melainkan jawaban konkret atas persoalan mahalnya pupuk kimia dan kerentanan tambak terhadap penyakit. Dr. Suherah, S.Pt, M.Si, pakar tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia hadir menjadi narasumber utama dalam pelaksanaan program ini. Ia dengan rinci menjelaskan prinsip bioremediasi berbasis jamur sekaligus mendemonstrasikan langkah demi langkah perbanyakan Trichoderma. Sesi bersama Dr. Suherah menjadi momen penting karena petani memperoleh pengetahuan baru sekaligus keterampilan praktis yang bisa mereka terapkan secara mandiri.
Dalam sesi pelatihan berjalan interaktif yang dipandu oleh Dr. Imelda Iskandar, SKM, M.Kes. Sementara Yunus, SKM, M.Kes mendampingi petani saat praktik, memastikan bahwa setiap langkah dapat dipahami dan dilakukan dengan benar. Ketua tim pengabdian sendiri, Ishak, SKM, M.Kes, bertugas memaparkan kepada petani, dimana dalam materinya memberikan gambaran mengenai perubahan perubahan yang terjadi setelah satu bulan aplikasi Trichoderma: salah satunya yakni pH naik dari 6,8 menjadi 7,0, amoniak turun dari 0,2322 menjadi 0,2119 mg/L, dan kadar nitrit yang berbahaya bagi udang menurun drastis lebih dari 70 persen. Di mana dengan adanya fakta ilmiah yang terjadi, merupakan bukti kuat bahwa Trichoderma bekerja sebagai agen hayati yang efektif dalam memperbaiki ekosistem tambak.

Tidak hanya pada aspek teknis dan ekologis, kegiatan ini juga membekali petani dengan wawasan ekonomi, dimana Arianto Dangkeng, SE, MM, dosen manajemen UMB, hadir memberi pemahaman bisnis kepada petani. Ia mengajak peserta menghitung potensi penghematan biaya produksi yang dapat mencapai 10 hingga 15 persen berkat berkurangnya ketergantungan pada pupuk kimia. Dalam pemaparannya, Arianto juga menekankan pentingnya memandang tambak bukan hanya sebagai sumber produksi, melainkan sebagai usaha berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga petani bila dikelola dengan baik.

Selama kegiatan berlangsung, sejumlah mahasiswa terlibat, diantaranya Dimas dari Fakultas Ilmu Komputer, Umrah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, serta Aulia Salim dari fakultas yang sama, menjadi bagian dari tim. Kehadiran mereka memberi warna baru: di satu sisi mereka belajar bagaimana riset kampus dihilirisasikan langsung ke masyarakat, di sisi lain mereka juga menjadi jembatan generasi muda dalam membangun kemandirian petani. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya pengabdian, tetapi juga wahana pembelajaran transformatif yang menanamkan nilai kebermanfaatan dan empati sosial kepada mahasiswa.

Tentu diharapkan hasil kegiatan akan segera dirasakan oleh para petani tambak. Air tambak yang semula keruh dan berbau lumpur berubah menjadi lebih jernih dan stabil. Salah seorang petani di kesempatan ini menyampaikan testimoni bahwa kondisi tambak terasa lebih sehat, udang dan bandeng tampak lebih aktif, dan mereka optimis panen mendatang akan lebih baik. Bahkan diantara mereka telah berencana memproduksi Trichoderma secara mandiri, menunjukkan sebuah sinyal positif bahwa transfer teknologi berhasil dan dapat berlanjut tanpa ketergantungan penuh pada tim pengabdi.
Secara lebih luas, hilirisasi teknologi ini menjadi bukti bahwa universitas mampu menjawab tantangan nyata masyarakat pesisir. Inovasi berbasis Trichoderma memberi manfaat ekologis karena mengurangi polusi kimia, manfaat ekonomi karena menurunkan biaya produksi, sekaligus manfaat sosial karena memperkuat solidaritas antar-petani. Kegiatan ini sejalan dengan strategi Universitas Mega Buana Palopo sebagai kampus berdampak yang menempatkan riset terapan dan pengabdian masyarakat sebagai pilar utama. Lebih jauh, kontribusi ini juga terkoneksi dengan Asta Cita Pembangunan Indonesia Emas 2045, khususnya dalam pembangunan berkelanjutan, penguatan ketahanan pangan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan pelaksanaan program di Desa Pao ini, Universitas Mega Buana Palopo tidak hanya hadir sebagai lembaga akademik, tetapi juga mitra masyarakat dalam membangun masa depan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan. Inovasi sederhana berbasis Trichoderma telah membuktikan bahwa riset kampus dapat dihilirisasikan secara nyata dan memberi dampak langsung bagi kehidupan masyarakat, sejalan dengan visi kampus untuk berkontribusi pada Indonesia yang berdaya dan berdaulat di bidang pangan.
Rektor Universitas Mega Buana Palopo, Prof. Dr. Hj. Nilawati Ulyu,S.Si.,Apt.,M.Kes, CIPA dalam keterangannya menyampaikan apresiasi terhadap program ini dimana Universitas Mega Buana Palopo hadir dalam memeberikan solusi bagi masyarakat, “kampus hadir bukan hanya dalam ruang akademik, tetapi juga di tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata. Teknologi Trichoderma adalah contoh bagaimana riset kampus dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh petani tambak,” sebutnya.(*)